Head to Head Pilkada Pandeglang: Seru dan Ketat!

Oleh : Dr. Ali Nurdin, MSi

(UJUNGKULON FM) – Didukung banyak partai politik belum menjamin seorang kandidat kepala daerah dapat memenangkan Pilkada. Pemilih partai pada pemilu legislatif tidak otomatis akan memilih kandidat yang diusung partai tersebut pada pemilu eksekutif. Fenomena seperti ini disebut split ticket voting, dan sudah banyak sekali terjadi dalam Pilkada di Indonesia.

Ratu Atut-Rano Karno didukung oleh sekitar 60 persen suara parpol pada Pemilihan Gubernur Banten 2011, namun raihan suaranya tidak sampai 50 persen. Jokowi-Ahok hanya didukung oleh kurang dari 30 persen suara partai pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, namun berhasil
meraih suara sekitar 53 persen.
Irna-Tanto juga diusung oleh sekitar 80 persen suara parpol pada Pilkada Pandeglang 2015, perolehan suaranya jauh di bawah suara partai politik. Selalu ada pemilih yang menyeberang atau menjatuhkan pilihan yang berbeda antara pemilu legislatif dan pemilihan eksekutif.

Tidak terkecuali pada Pilkada Pandeglang kali ini. Irna-Tanto yang diusung oleh 9 partai politik pemegang hampir 80 persen suara pemilih di Pandeglang raihan suaranya kemungkinan besar jauh di bawah itu, bahkan bisa anjlok sampai kurang dari 50 persen. Sebaliknya Thoni-Imat yang hanya didukung oleh 2 parpol dengan modal suara sekitar 20 persen tidak mustahil mendapat suara yang jauh di atas suara parpolnya.

Mengapa? Pertama, ada sekitar 20 sampai 30 persen pemilih di Pandeglang yang tidak suka dengan pemimpin perempuan. Sejumlah pemilih di Pandeglang meyakini bahwa laki-laki ditakdirkan menjadi pemimpin bagi perempuan, sebagaimana dituliskan dalam Al-Qur’an. Segmen ini pasti tidak akan memilih Irna, dan karena hanya ada 2 pasangan calon maka otomatis menjadi captive market bagi Thoni-Imat.

Kedua, lima tahun Irna-Tanto memimpin Pandeglang tidak
menghasilkan kemajuan yg berarti. Infrastruktur, pendidikan, pertanian tidak mengalami kemajuan berarti. Kesehatan hannya berhasil membangun satu rumah sakit baru, sementara KEK Tanjung Lesung yang digadang-gadang akan mendongkrak pariwisata Pandeglang masih jalan di tempat. Dalam kontastasi politik, biasanya berlaku prinsip reward and punish: pemimpin yg berhasil diberi penghargaan dengan cara dipilih kembali dan pemimpin yg dianggap buruk dihukum dengan cara mengalihkan pilihan ke kandidat lain yg mungkin lebih baik.

Ketiga, pengalaman selama ini di banyak kasus Pilkada yang head to head selalu berlangsung dengan sengit dan ketat. Raihan suaranya sering tidak terpaut jauh di rentang 0,5 sampai 20 persen. Sebab ketika merasa tidak cocok dengan salah satu kandidat, pemilih tidak
punya pilihan kecuali beralih ke calon satunya lagi. Kehilangan suara di satu kandidat, hampir otomatis akan menjadi penambahan suara di kandidat lawannya.

Keempat, ada banyak sentimen publik yang biasanya menyertai kontestasi yang head to head. Misalnya: sentimen kuat vs lemah, kami vs mereka, petahana vs penantang, santri vs non-santri, dan sebagainya. Sentimen-sentimen seperti ini, jika berhasil dikapitalisasi, dapat
memberikan nuansa pertarungan yang lebih sengit.

Jadi Irna-Tanto boleh saja diunggulkan, namun belum tentu mereka bisa memenangkan kontestasi dengan mudah. (FL/Red)

Dr Ali Nurdin, MSi
Pengamat Politik Universitas Mathla’ul Anwar

About REDAKSI UJUNGKULON FM 62 Articles
- dari ujungkulon untuk indonesia -

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*