Menyibak Jejak Peristiwa Berdarah di Cibaliung, Yang Kini Nyaris Terlupakan

(UJUNGKULON FM) – Kala itu sekitar empat tahun setelah Indonesia Merdeka, tepatnya tanggal 5 Oktober 1949, ada suatu Peristiwa Berdarah yang dikenal dengan sebutan “ PERISTIWA TJIBALIUNG “ yang terjadi di Kampung Dahu, Desa Cihanjuang Kecamatan Cibaliung,Kabupaten Pandeglang.

Sebagian masyarakat mungkin sudah mengetahui tentang peristiwa tersebut, namun sebagian besar masyarakat bisa jadi belum mengetahui secara persis apa itu Peristiwa Tjibaliung?

Dengan didasari rasa keingintahuan, Tim Ujungkulon FM akhirnya mencoba mendatangi lokasi Peristiwa tersebut yaitu di Kampung Dahu, Desa Cihanjuang Kecamatan Cibaliung, Selasa (15/9/2020).

Dengan menempuh Perjalanan sekitar 15 menit dari Pasar Cibaliung menuju ke arah Cikeusik, akhirnya kami (Tim Ujungkulon FM) pun tiba di lokasi, ditandai dengan sebuah Gapura bertuliskan “ Selamat Datang di Situs Bersejarah Desa Cihanjuang “ Terpampang dipintu masuk menuju lokasi Peristiwa Tjibaliung.

Gapura Selamat Datang Situs Peristiwa Tjibaliung (foto:dok.Ujungkulon FM)

Dan berjarak sekitar 200 meter dari Gapura tersebut, Berdirilah sebuah monumen atau Tugu yang tingginya sekitar 1,5 Meter, berwarna Putih, dan atas nya menyerupai Piramida,Tugu tersebut di kelilingi pagar besi yang mulai usang termakan waktu dan berada persis dibawah pohon yg menjulang tinggi.

Dibagian depan tugu tertulis tiga orang nama, yaitu : yang pertama, R. JOESOEF MARTADILAGA ( Komisaris Polisi Tk. 1 Kepala Polisi Karesidenan Banten), yang kedua, M. FATONI ( WK. Residen Banten ), dan yang ketiga, R. MOECHTAR TRESNA ( Kapten TNI ),

Dari nama nama yang tertulis tersebut, dapat dipastikan bahwa mereka adalah Pejabat Penting di Karesidenan Banten saat itu, dan dibagian bawah Tugu tertulis, bahwa Tugu tersebut di bangun pada tanggal 25 September 1971.

Tugu Peritiwa Tjibaliung (Foto : dok. Ujungkulon FM)

Setelah menyaksikan kondisi dan suasana disekitar tugu monumen itu, akhirnya kami pun di pertemukan dengan Abah Marsudin (76 Tahun), lelaki Paruh baya itu asli penduduk kampung Dahu, Desa Cihanjuang dan beliau merupakan orang yang cukup mengetahui tentang sejarah Peristiwa Tjibaliung, bahkan Pohon Besar yang berada di samping Tugu tersebut ditanam oleh Abah Marsudin,  Beliau masih ingat persis Peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam itu, dan secara ekslusif menceritakan nya kepada Tim Ujungkulon FM.

Abah Marsudin (Foto:dok. UjungkulonFM)

(Cerita ini versi Abah Marsudin dengan menggunakan Bahasa sunda, kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Tim Ujungkulon FM) :

“Waktu itu, ada Pasukan DI/TII (KelompokPemberontak/red), mengejar tiga orang pejabat penting di Karesidenan Banten yang melarikan diri ke daerah Pandeglang dan akhirnya ketiga orang pejabat penting tersebut tertangkap oleh Pasukan DI/TII di Cikeusik,  setelah tertangkap ketiga nya ditawan dan dibawa ke kampung Dahu, kemudian menginap di rumah Ki Noron salaseorang warga kampung tersebut,

Namun Keesokan harinya ketiga tawanan tersebut sudah tidak ada lagi bersama Pasukan DI/TII yang menagkapnya, masyarakat kampung dahu tidak tau kemana perginya , termasuk Ki Noron  pemilik rumah yang dijadikan tempat menginap pun tidak mengetahui kemana hilang nya ketiga orang tawanan tersebut, “ungkap Abah Marsudin, sambal mengingat ingat kejadian tersebut.

Setelah 40 hari sejak hilang nya tiga orang pejabat penting di Karesidenan Banten yang di tawan oleh Pasukan DI/TII itu , datanglah keluarga besar ketiga tawanan tersebut bersama petugas untuk mencari keberadaan nya, ditelusuri dari mulai cikeusik, cibingbin dan akhirnya ke kampung Dahu,

Abah Marsudin yang saat itu masih berusia sekitar 5 tahun, suatu hari tengah Ngaleuget Manuk (menagkap burung/Red), bersama ayahnya di atas pohon dadap , tiba tiba melihat ada bekas semak semak pada roboh dan seperti ada bekas galian tanah di bawah semak semak tersebut, namun abah marsudin dan ayahnya tidak berperasangka yang aneh aneh  melihat hal itu, dan kemudian keduanya pulang ke rumah seperti biasa. Namun setelah itu datanglah Para Petugas ke lokasi semak semak dan galian tanah tersebut, dan ternyata dilokasi itu ditemukanlah tiga Jenazah dalam satu lubang yang diyakini bahwa ketiga jenazah itu adalah  pejabat penting di Karesidenan Banten yang di tawan oleh Pasukan DI/TII. “ setelah di gali terlihat tubuh  ketiga orang itu yang masih pake baju seragam lengkap dan di bagian dadanya ada yang terlihat bekas luka tembakan,  dan saat di evakuasi masyarakat yang menyaksikan di lokasi itu tidak mencium bau, padahal jenazah itu sudah 40 hari “ kata Abah Marsudin , yang waktu itu ada di lokasi kejadian.

Abah Marsudin tidak menyangka bahwa semak semak yang roboh dan bekas galian tanah yang dia lihat bersama ayahnya itu, ternyata lubang yang berisi tiga jenazah orang penting di Karesidenan Banten, yang diketahui bernama : JOESOEF MARTADILAGA ( Komisaris Polisi Tk. 1 Kepala Polisi Karesidenan Banten), M. FATONI ( WK. Residen Banten ), dan R. MOECHTAR TRESNA ( Kapten TNI ).

Akhirnya ketiga jenazah tersebut di bawa oleh keluarga masing masing , Jenazah Joesoef Martadilaga dimakamkan di Ciherang,Kota Pandeglang, lalu jenazah Ahmad Fathoni dimakamkan di Serang, dan jenazah Moechtar Tresna dibawa ke Yogyakarta.

Joesoef Martadilaga merupakan orang yang pertama menjadi Kepala Polisi Wilayah Banten, dan memiliki Gelar Komisiaris Tingkat I, selain itu nama Joesoef Martadilaga juga di jadikan nama jalan raya  yang terkenal di Kota serang, yaitu Jalan Yusuf Martadilaga (jalan Yumaga/red).

Dan setelah semua jenazah itu di evakuasi, Abah Marsudin berinisiatif menanam Pohon Kepuh di samping Lubang tersebut sebagai tanda bahwa tempat itu bekas di kuburnya jenazah, dan kini pohon Kepuh tersebut menjadi pohon yang tinggi besar dan rindang, konon Pohon tersebut memiki kelebihan yaitu tidak bisa di potong atau ditebang sembarangan, Pohon itu sampai saat ini berdiri kokoh diatas lokasi tersebut yang kini menjadi sebuah Tugu. “ Jadi yang disini itu bukan kuburan, tapi hanya tugu peringatan bahwa disinilah tempat Peristiwa berdarah yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Tjibaliung, dan diwaktu waktu tertentu banyak Penziarah dan pengunjung dari luar daerah yang datang ke tempat ini, “ pungkas Abah Marsudin.

Meskipun Tugu Peristiwa Tjibaliung tersebut bukan Kuburan, tapi pada hakekat nya tempat ini adalah tempat pertama kali di kuburnya ketiga orang pejabat penting di Karesidenan Banten, sehingga sudah sepantasnya kita jaga dan pelihara situs bersejarah ini.(DL/Red)

About REDAKSI UJUNGKULON FM 62 Articles
- dari ujungkulon untuk indonesia -

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*